Sepertinya
cuaca sedang tidak bersahabat sore ini. Hanya ada gumpalan awan hitam yang
menutupi indahnya langit biru. Aku duduk memandang ke sekeliling, menikmati
indahnya alam semesta yang Tuhan ciptakan. Memandang bukit-bukit yang
terbentang indah namun dihiasi oleh langit yang sedang muram diatas sana.
Dengan
melihat langit yang begitu muram aku jadi teringat kamu. Kamu yang beberapa
bulan belakangan hanya membuat hatiku bagaikan langit itu; langit yang mendung
dan muram. Hanya karena satu kata ‘jarak’. Jarak yang sangat kurang ajar antara
tempatku dan tempatmu. Jarak yang membuat kita digerogoti rindu dan
kesalahpahaman. Jarak mamang telah mengubah segalanya. Jarak yang menghancurkan
semua.
Karena
jarak yang kurang ajar itu kita dilanda kesalahpahaman yang menimbulkan konflik
dan pada akhirnya kamu lebih memilih pergi yang membuat hari-hariku sepi.
Seperti malam tanpa bulan dan bintang. Seperti siang yang kehilangan mataharinya.
Setelah kamu mengucapkan kata ‘putus’ itu aku memang menjalani hari-hari yang
berat. Aku sangat merasa kehilangan karena tidak sebentar hari-hari yang telah
kita lewati bersama dan sekarang kita menjalani hari dengan jalan
masing-masing.
Awalnya
aku pikir aku tidak bisa hidup tanpa kamu, karena kamu bagaikan oksigen untukku
dan aku akan mati jika tanpa oksigen. Tapi nyatanya aku salah, lihatlah! Aku
masih hidup hingga sekarang, bukan? Aku masih bisa tertawa dan menjalani
hari-hariku seperti biasa walau tanpa kamu disampingku.
Sadar
atau tidak, hanya akulah yang paling tulus mencintai kamu apa adanya. Kamu
pasti akan menyadarinya suatu saat nanti dan akan menyesal. Dan bila tiba
saatnya nanti, mungkin aku sudah bersama pria lain. Pria yang mungkin lebih
baik dari kamu. Pria yang mungkin dapat
membuat aku lebih bahagia dibandingkan saat aku bersama kamu.
Jika
saat itu tiba mungkin aku sudah melupakan kamu, masa laluku. Dan bila karma itu
sudah kamu rasakan, jangan pernah meminta ku untuk kembali. Karena aku tidak
akan kembali kepada orang yang pernah membuat aku terpuruk sendiri, bahkan
membiarkannya dan tersenyum puas melihatku seperti ini.
Jika
suatu saat nanti kamu ingin kembali merajut asa bersamaku, aku hanya akan
berkata, “Maaf,Sayang. Aku tidak akan jatuh dilubang yang sama lagi untuk yang
kedua kalinya! Silahkan kamu cari wanita yang tahan dengan sikapmu dan dapat
dengan mudah kamu bodohi”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar