Aku ingin menulis. Menulis tentang kamu, menulis tentang kita. Kita?
Masih pantaskah aku dan kamu disebut kita setelah kata ‘putus’ yang kau
lontarkan melalui pesan singkat saat itu? Hm, sepertinya tidak. Karena sekarang
yang lebih pantas dengan sebutan ‘kita’ adalah kamu dan dia. Lalu aku lebih
pantas disebut apa? Sepertinya aku lebih cocok disebut dengan masa lalumu. Masa
lalu yang suram karena terlalu banyak kenangan manis yang telah kita lewati
bersama.
Ya, aku hanya seseorang
di masa lalu yang sekarang sudah tidak berarti lagi dimatamu, yang mungkin
sudah kamu buang jauh-jauh dari ingatanmu dan memilih tidak akan mengingatnya
walau sedetikpun. Walaupun kamu memperlakukan aku seperti ini, namun aku masih
setia menunggu.
Aku menunggu sosok yang
aku sudah tau akhirnya akan seperti apa – kamu lebih memilih pergi dan tidak
akan pernah kembali-, aku menunggu cinta yang semu. Aku menunggu kamu,
bayang-bayang semu. Aku tidak tahu ini yang disebut tulus atau justru malah
akan membuat aku terlihat bodoh?
Pria dengan tatapan
tajam, sadarkah kamu yang menjauh hanya mendekatkan aku pada kesepian dan
kesendirian? Sadarkah kamu bahwa ada seseorang yang benar-benar tulus mencintai
kamu? Apakah kamu tahu rasanya menjadi seorang wanita yang tersakiti karena
menunggu cinta yang semu, menunggu cinta yang entah kapan akan datang kembali?
Pria dengan senyuman
manis yang selalu membuat aku terpesona, apa kau terlalu tuli untuk mendengar kata
hatiku? Apa kau terlalu buta untuk melihat perhatianku dan memahami semua? Kau
tahu tapi berpura-pura tidak tahu atau kamu memang tidak tahu? Apa perasaanmu
mati, sehingga kamu tidak menyadari bahwa ada seorang wanita yang berjuang
mati-matian untukmu?
Pria manis, berikan aku
jawaban atas semua gundah dan pertanyaan yang kujawab sendiri. Aku lelah
menunggumu dalam bayang-bayang semu. Harus berapa lama lagi aku bertahan hanya
untuk menunggumu kembali?
cie Ratih
BalasHapus