Senin, 11 November 2013

Menulis Tentang Kamu

Aku ingin menulis. Menulis tentang kamu, menulis tentang kita. Kita? Masih pantaskah aku dan kamu disebut kita setelah kata ‘putus’ yang kau lontarkan melalui pesan singkat saat itu? Hm, sepertinya tidak. Karena sekarang yang lebih pantas dengan sebutan ‘kita’ adalah kamu dan dia. Lalu aku lebih pantas disebut apa? Sepertinya aku lebih cocok disebut dengan masa lalumu. Masa lalu yang suram karena terlalu banyak kenangan manis yang telah kita lewati bersama.
       Ya, aku hanya seseorang di masa lalu yang sekarang sudah tidak berarti lagi dimatamu, yang mungkin sudah kamu buang jauh-jauh dari ingatanmu dan memilih tidak akan mengingatnya walau sedetikpun. Walaupun kamu memperlakukan aku seperti ini, namun aku masih setia menunggu.
       Aku menunggu sosok yang aku sudah tau akhirnya akan seperti apa – kamu lebih memilih pergi dan tidak akan pernah kembali-, aku menunggu cinta yang semu. Aku menunggu kamu, bayang-bayang semu. Aku tidak tahu ini yang disebut tulus atau justru malah akan membuat aku terlihat bodoh?
       Pria dengan tatapan tajam, sadarkah kamu yang menjauh hanya mendekatkan aku pada kesepian dan kesendirian? Sadarkah kamu bahwa ada seseorang yang benar-benar tulus mencintai kamu? Apakah kamu tahu rasanya menjadi seorang wanita yang tersakiti karena menunggu cinta yang semu, menunggu cinta yang entah kapan akan datang kembali?
       Pria dengan senyuman manis yang selalu membuat aku terpesona, apa kau terlalu tuli untuk mendengar kata hatiku? Apa kau terlalu buta untuk melihat perhatianku dan memahami semua? Kau tahu tapi berpura-pura tidak tahu atau kamu memang tidak tahu? Apa perasaanmu mati, sehingga kamu tidak menyadari bahwa ada seorang wanita yang berjuang mati-matian untukmu?

       Pria manis, berikan aku jawaban atas semua gundah dan pertanyaan yang kujawab sendiri. Aku lelah menunggumu dalam bayang-bayang semu. Harus berapa lama lagi aku bertahan hanya untuk menunggumu kembali?

1 komentar: